BERITA

photo
Focus Group Discussion Testing Kurikulum Program Pendidikan dan Pelatihan Perternakan Japfa Foundation 2020
 13 July 2020 16:38:37    Education

Sabtu, 20 Juni 2020 - Bertempat di Bandung, Japfa Foundation baru saja mengadakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) testing kurikulum bagi mahasiswa/i semester 8 dan alumni peternakan dari Universitas Padjajaran.
Sebelumnya, kegiatan FGD yang sama juga telah dilakukan bagi mahasiswa/i semester 8 dan alumni Peternakan dari Institut Pertanian Bogor. Kedua kegiatan tersebut difasilitasi oleh tim program Japfa Foundation.
Kegiatan yang dilakukan dalam FGD tersebut adalah :

  1. Uji coba kurikulum dan metode belajar.
  2. Sharing session pendalaman kebutuhan alumni saat lulus terkait soft skill dan technical skil serta melihat kesiapan alumni untuk masuk dalam dunia kerja.


Kegiatan ini bertujuan untuk mendapat masukan dalam pengembangan konsep Program Pendidikan dan Pelatihan Peternakan Japfa Foundation yang dapat memberikan kontribusi dalam memajukan dunia peternakan di Indonesia.

.

Baca selengkapnya
photo
Inspirasi Dari Tempat Magang Bagi Kamu Generasi Milenial
 18 June 2020 12:33:37    Education

Magang atau Praktik Kerja Lapangan (PKL) merupakan sebuah peluang yang dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk memiliki pengalaman bekerja dan menerapkan teori yang telah diajarkan di perkuliahan. Justian1 dan Aghis2 adalah dua penerima beasiswa Japfa Foundation tahun 2018 dan 2017 yang telah melakukan kegiatan magang di dalam dan luar negeri. Simak cerita bermanfaat berikut ini ya, untuk menambah pengetahuanmu tentang manfaat dari kegiatan magang, terutama bagi kamu generasi milenial. Selamat membaca! 

Justian, Mengggali Pengalaman Dari Negeri Kangguru 

Justian – sapaan akrab Justian Ahmad – seorang mahasiswa semester 8 jenjang S1 (Sarjana) Jurusan Peternakan, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya ini telah melaksanakan kegiatan magang pada bulan September s.d Oktober tahun 2019 di Victoria River Down Station, Northern Territory, Australia dibawah naungan Heytesbury Cattle Company. Perjalanan Justian untuk diterima magang di salah satu perusahaan peternakan di Australia tentu tidaklah mudah. Beberapa tahapan seleksi perlu dilalui meliputi tes tulis, tes fisik, tes wawancara harus dilalui oleh Justian bersama Galih Purboningrum untuk lolos mewakili Universitas Brawijaya dalam program NIAPP (NTCA-Indonesia Australia Pastoral Program) tahun 2019 bersama 19 perwakilan lainnya dari berbagai universitas di Indonesia. 

Sebelum melakukan program magang di Australia, Justian dan perwakilan lainnya mendapatkan pelatihan di PT Pasir Tengah selama 3 hari, materi pelatihan yang diberikan antara lain handling sapi, supply chain sapi potong Australia-Indonesia, menghadapi culture shock, dan mengatur media sosial. Sesampainya di Australia, Justian dan perwakilan lainnya mendapatkan pelatihan di Kota Alice Springs, Northern Territory selama 2 minggu dengan beragam materi pelatihan antara lain first aidhandling sapi, motorbike training, horse riding training, beef cattle management serta fencing training. Setelah itu barulah Justian ditempatkan di Victoria River Downs station (VRD).

Justian bersama rekannya Brian Marcel Crissanto Fatem yang berasal dari Universitas Papua menghabiskan waktu 1,5 bulan bekerja di sebuah station bernama Victoria River Downs –peternakan sapi ikonik di Australia yang telah beroperasi lebih dari 100 tahun yang saat ini memiliki luas mencapai 390.400 hektar (termasuk Humbert River) dengan sapi sebanyak 33.000 ekor– . Siklus aktivitas magang yang dilakukan oleh Justian dan rekannya menyesuaikan dengan standar kerja di VRD, seperti jam kerja yang dimulai pada pukul 05.30 pagi untuk sarapan dan selesai bekerja pada pukul 18.00 sore. Selama kegiatan magang di VRD, Justian telah melakukan beragam kegiatan seperti fencing (kegiatan membuat dan memperbaiki pagar yang terbuat kawat), melakukan prosesing sapi yang meliputi kastrasi, pemasangan, pemasangan ear tag, pemotongan tanduk, branding, dan tes kebuntingan. 

Lebih lanjut Justian juga bercerita bahwa dengan kegiatan magang ini banyak ilmu dan keterampilan baru yang diperolehnya, “Berada di lingkungan magang sebesar ini tentunya membuat saya belajar banyak, ilmu-ilmu peternakan yang saya dapat di perkuliahan diperkaya dengan banyak pengembangan dalam program magang ini. Selain itu, tidak hanya ilmu peternakan yang didapatkan dalam program magang ini saya belajar dalam tekanan kerja yang tinggi menuntut  saya untuk bekerja dengan cepat dan tepat, etos kerja orang Australia yang tinggi inilah yang mengharuskan saya belajar mengikuti pola kerja yang disiplin dan profesional” ungkap Justian. 

Melakukan kegiatan magang jauh dari tanah air, dengan perbedaan budaya tentunya memberikan pengalaman suka dan duka, dari sekian banyaknya pengalaman menyenangkan, Justian menyatakan ada juga pengalaman kurang menyenangkan yang dialaminya, “Bagi pekerja di station, melontarkan kata kasar adalah hal yang biasa. Saya perlu beradaptasi dengan kebiasaan itu, yang akhirnya membuat mental saya lebih kuat dari sebelumnya,” tutur Justian.  

Program magang atau PKL adalah program wajib dari fakultas yang harus dilakukan oleh mahasiswa khususnya peternakan. Oleh karena itu, salah satu bentuk tunjangan yang diberikan oleh beasiswa prestasi Japfa Foundation adalah tunjangan PKL/magang. Sejalan dengan hal tersebut, Justian juga mengungkapkan bahwa tunjangan PKL ini sangat bermanfaat bagi penerima beasiswa, “Sebagian besar kebutuhan primer saat saya magang telah ditanggung oleh penyelenggara program NIAPP, namun bagi saya tunjangan PKL ini tetap bermanfaat sekali sebagai dana pendukung kegiatan magang seperti kebutuhan transpor lokal atau uang saku saat persiapan keberangkatan,” ungkap Justian. 

Dari proses perjalanan magang yang menantang dan berliku inilah, Justian ingin membagikan beberapan tips kepada teman-teman mahasiswa yang akan magang atau ingin kembali melakukan program magang agar kegiatan magangmu bermanfaat, yaitu : 

  1. Jika ada peluang magang baik di dalam negeri dan luar negeri, sekecil apapun peluangnya jika ada kesempatan cobalah. Karena seberat apapun tantangannya ketika kita berusaha selalu ada kemungkinan berhasil jika kita mencoba. 
  2. Ketika berada di lingkuran baru khususnya tempat magang yang memiliki kebiasaan serta kebudayaan berbeda, kita harus sesegera mungkin untuk beradaptasi. 
  3. Kesempatan adalah hal yang unik, seringkali tidak datang dalam dua kali. Oleh karenanya, ketika kita mendapatkan kesempatan, maka manfaatkan kesempatan itu dengan baik untuk kita belajar yang tidak didapat dalam bangku perkuliahan. 

“PKL atau magang tidak hanya untuk menambah hardskill pengetahuan kita, lebih dari itu melalui magang kita dapat memperkuat karakter tanggungjawab terhadap apa yang kita lakukan, belajar lebih disipilin dalam mengatur waktu serta belajar profesional dalam bekerja.” – Justian Ahmad.


Cerita Aghis, Gali Pengalaman dari Lampung sampai Malaysia 

 Aghis- sapaan akrab Aghis Rizka Dela-  yang merupakan Penerima Beasiswa Prestasi Japfa Foundation tahun 2017, seorang alumni jenjang D3 Kesehatan Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Syiah Kuala. Selama menjadi mahasiswa dan lulusan baru (fresh graduate) Aghis telah memiliki pengalaman magang di 2 tempat yaitu di dalam dan luar negeri. Pengalaman magang di dalam negeri Aghis dapatkan pada tahun 2018 bertempat di PT Austasia Stockfeed Jabung, Lampung Timur selama 3 bulan dan pengalaman magang saat menjadi fresh graduate di luar negeri bertempat di Ternakan N&A Wawasan SDN BHD Kedah, Malaysia selama 2 minggu pada tahun 2019. Pengalaman magang Aghis tentunya dilalui dengan penuh usaha dan kerja keras. Selain ilmu dari bangku perkuliahan tentunya keterampilan dari pengalaman magang ini dapat dimanfaatkan oleh Aghis yang kini telah bekerja di salah satu klinik dokter hewan di wilayah Cibubur, Bogor. 

Aghis menceritakan pengalaman magangnya di luar negeri ini merupakan salah satu pengalaman magang yang berkesan, menjadi salah satu praktikan kesehatan hewan di salah satu peternakan (kambing, sapi dan kerbau) Malaysia dengan kapasitas populasi ternak lebih dari 2000 ekor. Untuk lolos menjadi praktikan kesehatan hewan di peternakan tersebut, Aghis melalui tahapan wawancara yang dilakukan langsung oleh direktur peternakan tersebut, “Awalnya Aghis kaget juga langsung diwawancarai oleh direktur, diberikan pertanyaan terkait keterampilan pengecekan kesehatan hewan kurban. Bersyukurnya Aghis sudah berpengalaman di tempat magang sebelumnya untuk mengecek kesehatan hewan besar seperti sapi, sehingga Aghis cukup mengusai jawaban dari pertanyaan yang diajukan tersebut” ungkap Aghis. Selama melakukan magang di Malaysia banyak hal yang dilakukan oleh Aghis seperti memastikan kesehatan hewan-hewan kurban, melakukan pengecekan kandang, dan mengukur berat hewan. 

Pengalaman magang di Malaysia ini juga mengajarkan Aghis untuk belajar berinteraksi dengan pekerja yang berasal dari berbagai negara seperti Malaysia, Bangladesh, dan Burma sehingga kemampuan Bahasa Inggris yang Aghis miliki juga terasah. Dari pengalaman magang ini, Aghis menceritakan bahwa ada 3 manfaat yang dirasakan selama magang, “Aghis merasa banyak sekali manfaat dari magang ini, seperti belajar mandiri, berlajar beradaptasi dengan budaya dan bahasa yang berbeda, dan lebih mendalami ilmu kesehatan hewan karena cukup berbeda antara kuliah dan di lapangan, bisa jadi dalam teori diajarkan A sedangkan dalam aplikasinya bisa A, B, dan C karena akan mengalami pengembangan sesuai kondisi” ujar Aghis. Lebih lanjut Aghis juga bercerita bahwa diakhir masa magangnya, berkat hasil kerja Aghis yang baik saat itu langsung mendapatkan penawaran kesempatan untuk mengikuti pelatihan dan pendampingan pada posisi Supervisor (SPV) di peternakan tersebut.

Pengalaman magang di dalam negeri tentunya tidak kalah berkesan bagi Aghis dan rekan-rekan mahasiswa JFSC Unsyiah tahun 2017 yang berkesempatan magang di PT Austasia Stockfeed Jabung, Lampung Timur.  Aghis dengan antusiasnya bercerita, “Selama magang di PT Austasia itu enak, ilmunya dapet banget selama 3 bulan disana, pekerjanya baik-baik, kami diajak nekropsi pada ruminansia sampai diajarkan IB (Inseminasi Buatan) pada sapi” ungkap Aghis. Sebagai praktikan di tempat magang yang begitu luas dengan kapasitas populasi 22.000 sapi, tentu membutuhkan fisik yang kuat sehingga mahasiswa perlu cepat beradaptasi, berani untuk lelah dalam menggali hal-hal baru di tempat magang. 

Sama halnya seperti Justian, sebagai penerima beasiswa prestasi Japfa Foundation Aghis juga merasakan manfaat dari tunjangan PKL/magang, “Aghis dan rekan-rekan UNSYIAH lainnya tentunya sangat terbantu dengan dana tunjangan magang ini, karena Aghis memilih tempat magang di luar Aceh, dana ini kami manfaatkan untuk transport, uang saku dan biaya makan di luar jam kerja, karena selama jam kerja konsumsi diberikan oleh tempat magang” ujar Aghis. 

Aghis yang kini telah memasuki dunia professional dengan pengalaman magang yang dimilikinya ini ingin memberikan pesan kepada teman-teman mahasiswa yang akan memasuki fase kegiatan magang atau PKL di perkuliahannya untuk selalu semangat dalam menggali hal-hal baru. 


“Jangan mudah mengeluh ya! Minimalisasi keluhan kita saat magang, jadikan kesempatan magang untuk belajar dan menggali hal-hal baru yang tidak bisa kita dapatkan di bangku perkuliahan karena akan berguna di dunia professional (pekerjaan).” – Aghis


 

 

Justian Ahmad, JFSC 2018, S1 Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Univ. Brawijaya

Aghis Rizka Dela, JFSC 2017, D3 Kesehatan Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Univ. Syiah Kuala

.

Baca selengkapnya
photo
Ayo Jadi Mahasiswa yang Berani Berwirausaha
 18 June 2020 11:55:06    Education

Jian dan Ubpa adalah dua dari sekian banyak mahasiswa yang menggeluti usaha sambil kuliah. Jian dan Ubpa merupakan penerima beasiswa Japfa Foundation tahun 2018. Bagaimana cerita Jian dan Ubpa dalam menjalankan usahanya masing-masing? Mari kita simak cerita mereka! 

Jian, Bercita-cita Menjadi Pengusaha Peternakan Sapi

Jian Maulana, seorang mahasiswa semester 6 Jurusan D3 Kesehatan Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Syiah Kuala. Selain menjadi mahasiswa, Jian juga memiliki usaha penggemukan dan pembibitan sapi yang diberi nama JM LIVESTOCK VETERINARY di Langsa, Aceh. Jian mengaku sudah sejak kelas 5 SD tertaik pada dunia peternakan, terutama sapi. Berawal dari ketertarikannya tersebut, Jian memutuskan sekolah di SMK Peternakan lalu melanjutkannya di D3 Kesehatan Hewan. Jian beserta keluarga mengelola usaha penggemukan dan pembibitan sapi tersebut sejak 2008. “Jian memilih berwirausaha di bidang peternakan karena Jian melihat peluang usahanya besar, kebutuhan pasarnya tinggi” ujar Jian.

Jian mengaku senang menggeluti usaha di bidang peternakan sapi. Namun demikian usaha yang dijalankan Jian tidak selalu mulus, b. “Dukanya menjalani usaha di bidang peternakan, misalnya induk sapi diinseminasi buatan, harusnya lahir 9 bulan kemudian, tapi ada yang keguguran atau lahir mati” ujar Jian. Selain itu, Jian mengaku tidak bisa terlalu fokus mengurus usahanya tersebut saat menjadi mahasiswa, sehingga Jian meminta bantuan orang lain untuk mengurus sapi-sapi miliknya. “Pengalaman juga karena kemarin tidak bisa terlalu fokus urus ternak karena kuliah di kota, Jian minta bantuan orang lain untuk ngurus sapi. Tapi kesalahannya tidak ada perjanjian yang jelas terkait untung ruginya. Jadi berhenti disitu” tambah Jian.

Merintis usaha di bidang peternakan tak lepas dari komentar negatif keluarga dan teman Jian. “Dulu ada teman yang ngejek. Keluarga juga menganggap bahwa ternak sapi itu cuma sampingan atau tabungan, tidak bisa sukses. Tapi Jian yakin bisa sukses dari ternak sapi” ujar Jian. Jian menyatakan bahwa kini teman dan keluarga mendukung usahanya. “Sekarang Jian melihat banyak orang yang memiliki modal tergiur dengan usaha bidang peternakan, tapi mereka tidak tahu ilmunya” tambah Jian.

Jian mengaku dengan ilmu yang diperoleh dari bangku kuliah dan pembelajaran yang sedang ditekuni mengenai manajemen pemasaran dapat mendukungnya dalam mewujudkan cita-citanya. “Cita-cita Jian adalah menciptakan lapangan pekerjaan agar bisa mengurangi angka pengangguran. Di Aceh, untuk memenuhi kebutuhan sapi potong kita masih ambil dari provinsi lain. Jian berharap dan yakin suatu saat Jian bisa memenuhi kebutuhan sapi tersebut” ujar Jian penuh semangat.

Sebagai seorang mahasiswa yang juga giat berwirausaha, Jian mengungkapkan bahwa pencapaian yang didapatnya sekarang ini tidak lepas dari dukungan Beasiswa Prestasi Japfa Foundation yang membantu baik dari segi finansial maupun dalam segi mengasah kemampuan. “Dari Beasiswa Japfa Foundation saya merasa terbantu dari segi finansial karena bisa bantu orangtua bayar SPP, penelitian, uang bulanan. Melalui kegiatan sosial, Jian juga terasah kemampuan public speaking-nya, bisa berinteraksi dengan masyarakat, dan bisa menjadi jembatan untuk membesarkan usaha” ujar Jian.

Jian adalah salah satu mahasiswa yang berani mengisi waktu produktifnya tidak hanya untuk kegiatan perkuliahan namun juga berani mengembangkan dirinya menjadi seorang wirausaha. Jian berpesan untuk sesama mahasiswa agar mulai berani wirausaha saat masih kuliah karena memiliki beragam manfaat. 


“Setamat kuliah, ciptakan lapangan pekerjaan. Jangan malah meningkatkan angka pengangguran. Peluang usaha itu besar. Sebelum mulai usaha, pahami betul fokus bidang apa yang ingin dijalankan. Pikirkan juga pemasarannya.” – Jian Maulana


 

Ubpa, Mahasiswa Pertanian yang Menggeluti Usaha Mi Olahan dari Sagu

Ubpa Aprilia Fahlefi, salah satu penerima Beasiswa Japfa Foundation tahun 2018, merupakan mahasiswa semester 8 jurusan agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas. Saat ini, selain melakukan penelitian tugas akhir, Ubpa aktif sebagai Dewan Pengawas Komunitas Mahasiswa Ilmiah Pertanian, mentor bisnis bidang kuliner dan menjalankan usaha kuliner mi olahan dari sagu, MIHAGO. 

Berawal dari keikutsertaannya dalam kompetisi bisnis, Ubpa bersama 2 rekannya memutuskan untuk menjalankan usaha MIHAGO sejak April 2019. Sasaran pemasaran MIHAGO adalah teman-teman di kampus Universitas Andalas. Ubpa dan rekan-rekannya melakukan pemasaran melalui media sosial yang akan diantar ke pelanggan serta membuka outlet di acara kampus. Dalam sehari Ubpa dan tim dapat menjual sampai 100 pcs MIHAGO. Namun saat pandemi ini, Ubpa mengaku tidak bisa memasarkan kembali di kampus karena adanya kebijakan belajar dari rumah dan memulangkan mahasiswa ke kampung halaman masing-masing, termasuk Ubpa dan kedua rekannya. 

Ubpa dan kedua rekannya memutuskan untuk menjalankan usaha mi olahan dari sagu karena Ubpa ingin meningkatkan nilai jual dari produk pertanian. “Alasannya karena Ubpa melihat tidak ada nilai lebih dari produk pertanian. Selain itu, di Pariaman banyak memproduksi sagu tapi kurang pemanfaatannya. Sagu kurang banyak diolah oleh orang. Kenapa memilih Mi? Karena Mi adalah makanan yang digemari masyarakat” ujar Ubpa.

Ubpa merasa puas dan senang bisa memiliki usaha sambil kuliah apalagi di bidang pertanian sesuai jurusan yang diemban. Menjalankan usaha tidak selalu lancar, Ubpa dan tim juga merasakannya hambatan dan tantangan dalam berwirausaha. “Dukanya penjualan tidak selalu ramai seperti yang diharapkan. Dari tim sendiri, pengelolaan keuangan juga masih kurang” ujar Ubpa. Selama ini agar tidak mengganggu jadwal masing-masing, Ubpa dan tim selalu membagi tugas dan mengatur jadwal mingguan. “Pembuatan MIHAGO nya kita produksi sendiri. Jadi kami bertiga gentian, diatur jadwalnya” tambah Ubpa.

Guna mengetahui respon dari pelanggan, Ubpa dan tim mengambil strategi untuk menyebar kuesioner kepada pelanggan yang membeli, sehingga Ubpa dan tim dapat memperbaiki kualitas produk berdasarkan masukan dari pelanggan. Ubpa mengaku kini MIHAGO masih sebatas mi basah yang dijual dalam bentuk mi goreng. Ubpa berharap kedepannya dapat membuat inovasi mi kering dengan berbagai varian rasa dan memiliki outlet. “Saat ini masih mi basah. Kami ingin berinovasi ke bentuk mi kering. Kami juga ingin ke depannya langsung memperoleh bahan baku sagu dari petani, tidak lagi membeli dalam bentuk tepung seperti sekarang ini. Kami juga ingin memiliki outlet sendiri” ujar Ubpa.

Selama menjalankan usaha MIHAGO, Ubpa mengaku mendapat beragam respon dari teman dan lingkungan sekitar. “Ada teman yang menilai negatif dan tidak percaya apakah rasanya enak kalo dari sagu. Tapi lebih banyak teman yang excited dengan MIHAGO. Keluarga juga sangat positif responnya karena berharap setelah kuliah bisa buka lapangan pekerjaan” ujar Ubpa. 

Menurut Ubpa dengan beragaman aktivitas dan pencapaian yang telah diraih saat ini, Beasiswa Prestasi Japfa Foundation yang diterimanya sangat membantunya dari segi finansial dan juga mengasah keterampilan. “Selain finansial, melalui bimbingan akademik, saya dan teman-teman Unand dapat bimbingan mengenai wirausaha, diajarin materi dan praktik. Tunjangan Bahasa Inggris juga menggali kemampuan berbahasa kami karena selain speaking ada juga kelas materi seperti tips&trik TOEFL. Dari kegiatan sosial kami bisa lebih dekat dengan masyarakat seperti petani dan meningkatkan kemampuan public speaking” ujar Ubpa.

Ubpa merupakan seorang mahasiswi pertanian yang berani mengasah kemampuannya tidak hanya digunakan untuk sekedar mencapai nilai akademik yang baik, namun lebih dari itu, Ubpa berani mengasah kemampuan yang dimiliki untuk lebih bermanfaat bagi banyak orang melalui wirausaha di bidang pertanian.  


“Pertanian kaya akan beragam hasil panennya sehingga dengan berwirausaha di bidang pertanian maka kita juga ikut memajukan pertanian. Dengan berwirausaha kita dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi diri sendiri dan orang lain. Jangan takut gagal dalam berwirausaha karena akan banyak gagal dalam mencapai sukses berwirausaha” – Ubpa Aprilia Fahlefi


 

 

Jian Maulana, JFSC 2018, D3 Kesehatan Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Univ. Syiah Kuala

Ubpa Aprilia Fahlefi, JFSC 2018, S1 Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Univ. Andalas

.

Baca selengkapnya
photo
Cerita Aruma Mahasiswa Berprestasi yang Giat Berbisnis dan Berjiwa Sosial
 18 June 2020 11:39:02    Education

Antara Akademik, Bisnis dan Sosial

Aruma, begitu biasanya ia disapa. Aruma Hamida merupakan mahasiswa semester 8 Program Studi Budidaya Perairan, Jurusan Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya. Aruma meraih predikat sebagai Mahasiswa Berprestasi Utama Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya Tahun 2019. Kini, sebagai mahasiswa tingkat akhir, Aruma tidak hanya melakukan penelitian tugas akhir, tetapi juga disibukkan dengan berbagai kegiatan bisnis dan sosial. 

“Saat disamping bimbingan laporan skripsi, aku sambil menjalankan bisnis di bidang kuliner, mengelola administrasi PAUD dan menjalankan proyek sosial pelatihan budidaya di salah satu SMA” ujar Aruma. 

Aruma bersama ke-dua saudaranya menjalankan bisnis kuliner berupa snack/cemilan bernama Zadaku sejak 3 tahun lalu. Aruma juga turut bertanggung jawab dalam pengelolaan administrasi PAUD Bintang Insani yang dikelola oleh yayasan keluarga. Tak hanya itu, Aruma beserta satu temannya juga memiliki proyek sosial, yakni memberikan pelatihan budidaya lele di salah satu sekolah gratis untuk membantu anak anak yatim piatu dan kurang mampu agar bisa melanjutkan sekolah di jenjang SMA di Kota Batu, Jawa Timur sejak tahun lalu. 

Menjalankan berbagai kegiatan di satu waktu tentunya cukup menyita energi. Bagaimana Aruma bisa membagi waktu agar seimbang antara akademik, bisnis dan sosial? 


“Aku membiasakan membuat skala prioritas, dimana diutamakan urusan yang sangat penting dan sangat mendesak. Setiap hari selalu bikin agenda harian, apa yang akan dikerjakan hari ini di pagi hari” ujar Aruma.


Bukan berarti tidak ada rintangan dalam menjalankan berbagai kegiatan. Aruma juga pernah mengalaminya. “Pernah juga di satu hari bentrok antara ujian dan deadline sinkronisasi data dapodik PAUD. Tapi Alhamdulillah semuanya bisa teratasi dengan bagi waktu antara belajar untuk ujian dan bantu administrasi PAUD” tambah Aruma.

Arti Prestasi bagi Aruma 

Selama menjadi mahasiswa, Aruma mencatatkan beberapa prestasi baik tingkat nasional maupun internasional. Beberapa prestasi yang berhasil diukir Aruma diantaranya:

  1. Mahasiswa Berprestasi Utama Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya tahun 2019
  2. Juara 1 International & Inovation Competition (InIIC) Series 2/2019 di Selangor Malaysia
  3. Juara 1 dan Terbaik dalam Teknopreneur Muda Pemula Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia 2019 
  4. Lolos pendanaan Kompetisi Bisnis Mahasiswa Indonesia (KBMI) Ristekdikti 2019 dengan judul LAMPRE senilai Rp 18 juta.
  5. Juara 1 Call for Paper the 7th Java Business Competition 2018 di Telkom University, Bandung.

Bagi Aruma prestasi bukan berarti harus menjadi juara. “Prestasi itu bukan selalu di posisi nomor 1 tapi proses belajar. Mendapatkan pengalaman berharga sehingga mengetahui kelemahan dan kelebihan diri sendiri adalah sebuah prestasi. Dengan kita mencoba meraih mimpi akan didapatkan bahan refleksi. Prestasi bukan datang tanpa usaha yang keras. Saya yakin hasil yang didapat sebanding dengan usaha, harapan dan doa.” ujar Aruma. 

Sosok Inspirasi, Prestasi dan Pengalaman Tak Terlupakan bagi Aruma

Di balik prestasi dan berbagai kegiatan yang dijanlankan oleh Aruma, ada sosok Ayah yang menjadi inspirasi baginya. Kata-kata sang Ayah dipegang teguh oleh Aruma hingga kini.

“Kita sebagai manusia, apalagi wanita, harus punya mimpi untuk diwujudkan. Harus tekun dalam mengerjakan apapun” ujar Aruma menirukan perkataan sang Ayah. 

Menjuarai beberapa kompetisi merupakan pengalaman tak terlupakan bagi Aruma. Salah satu prestasi yang paling berkesan adalah saat Aruma mengikuti kompetisi bisnis di Surabaya dalam ajang IBTExpo. Membawakan produk Zadaku, yakni produk olahan dari ikan, Aruma berhasil membawa juara 1 dan mendapatkan pendanaan sebesar Rp 13 juta. 

“Prestasi yang paling tak terlupakan adalah saat ikut kompetisi IBTExpo di Surabaya lalu bertemu dan berbincang langsung dengan Bapak Dahlan Iskan yang saat itu menjabat sebagai Menteri BUMN. Sampai sekarang aku masih ingat kata-kata Pak Dahlan Iskan beliau berkata “Orang hebat tidak dihasilkan dari kemudahan, kesenangan dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui kesulitan, tantangan dan air mata”” ujar Aruma. 

Selain mengikuti kompetisi IBTExpo, mengikuti kompetisi tingkat internasional pertama bersama dua temannya di Johor, Malaysia menjadi pengalaman menarik bagi Aruma. Mengikuti kompetisi internasional pertama membuat Aruma dan tim terus belajar mengasah kemampuan Bahasa Inggris, cara mempresentasikan gagasan dengan baik dan tentunya relasi. 

“Itu pengalaman kompetisi di luar negeri pertama. Seneng banget tapi banyak bingungnya. Menariknya ada seseorang yang excited dengan inovasi kita dan ngasih kartu nama ke kita, ternyata dia adalah orang memiliki perusahaan teknologi pengolahan limbah dan juga pemateri pada event seminar internasional tersebut.” ungkap Aruma.  Sayangnya, produk LAMPRE (Lamp Protector Eco-matic 6 in 1) belum berhasil membawa Aruma dan tim meraih juara di ajang tersebut. “Sedikit kecewa sih awalnya, tapi banyak pembelajaran yang kita ambil mulai dari persiapannya, bahasa Inggris, tambah relasi dan lain-lain” tambah Aruma.

Peran Beasiswa Japfa Foundation bagi Aruma

Sebagai salah satu penerima Beasiswa Prestasi Japfa Foundation, Aruma menyatakan bahwa beasiswa Japfa Foundation sangat membantunya, baik dari segi finansial maupun mengasah keterampilan.

Beasiswa Japfa Foundation sangat membantu saya dalam mengasah skill. Pertama, program Bahasa Inggris, membuat saya terpacu untuk bisa speaking. Kedua, tunjangan kegiatan sosial. Saya merasa bahwa dari beberapa kegiatan sosial yang dilakukan oleh kami penerima beasiswa JF di UB bisa berdampak bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Lalu uang bulanan yang diberikan bisa saya gunakan untuk registrasi lomba, lalu ikut kursus online” pungkas Aruma.

Tips dari Aruma untuk Teman-teman Mahasiswa

Aruma memberikan beberapa tips untuk teman-teman mahasiswa, nih. Simak yuk!

  1. Punya tujuan yang jelas dan terukur. Terlebih mahasiswa di semester awal penting menetapkan tujuan yang jelas dan terukur. Tetapkan target apa yang ingin dicapai, langkah-langkahnya serta indikator keberhasilan yang jelas.
  2. Selalu asah kemampuan. Misalnya kemampuan berbahasa asing, kemampuan berkomunikasi, kemampuan membangun kerjasama tim, kemampuan memecahkan masalah, berfikir kritis dan kepemimpinan.
  3. Harus ikut organisasi. Bagi sebagian mahasiswa, mengikuti organisasi sambil kuliah mungkin susah. Yakinlah ketika berorganisasi, banyak pengalaman yang tidak didapat di bangku kuliah. Oleh karena itu, ikuti organisasi yang sesuai hobi dan passion.
  4. Open-minded. Mau berprestasi di bidang apapun, kita harus terbuka berdiskusi dengan siapapun tentang apapun. Berdiskusi akan membuka pemikiran-pemikiran baru dan tentunya ilmu akan lebih mudah diserap
  5. Selalu lakukan lebih dari orang lain. Memiliki ambisi yang kuat untuk melakukan sesuatu. Tetap fokus dan lakukan lebih dari yang lain. Kalau orang lain melakukan 10 maka kita lakukan 100. Tidak boleh cepat puas dan harus terus mencoba.

“Kita memiliki waktu yang sama setiap detiknya dan kesempatan yang sama setiap harinya. Semua tantangan dan kesulitan dapat kita atasi kalau kita mau berusaha. Jadi permasalahannya adalah bukan BISA atau TIDAK BISA, tapi MAU atau TIDAK MAU berusaha” Aruma Hamida.


 

 

Aruma Hamida, JFSC 2018, S1 Jurusan Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya 

.

Baca selengkapnya
photo
Japfa Foundation Scholars ULM Beri Penyuluhan dan Pelatihan Budidaya Azolla
 18 June 2020 11:31:59    Education

Kolaborasi Antar Jurusan

Made Indra dan M. Rizkan adalah 2 dari 17 penerima Beasiswa Prestasi Japfa Foundation yang berasal dari Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat (ULM).  Sebagai penerima Beasiswa Prestasi Japfa Foundation, salah satu kewajiban yang mesti diemban oleh para penerima beasiswa adalah menjalankan kegiatan sosial yang dilakukan secara berkelompok. Para penerima Beasiswa Prestasi Japfa Foundation dari Universitas Lambung Mangkurat melaksanakan kegiatan sosial dengan memberikan penyuluhan dan pelatihan Budidaya Tanaman Azolla kepada masyarakat di Desa Lok Gabang, Kecamatan Astambul, Kab. Banjar, Kalimantan Selatan. 

Kegiatan sosial tersebut diawali dengan survei lokasi sesuai arahan dari instansi pemerintah setempat dengan kriteria mayoritas warga memiliki mata pencaharian sebagai petani dan peternak. “Desa Lok Gabang memiliki potensi ternak itik, namun terdapat kendala dalam biaya pakan yang terbilang tinggi. Kami, JFSC [Japfa Foundation Scholarship Club] ULM memberikan solusi kepada warga Desa Lok Gabang, khususnya Kelompok Tani Tunas Harapan dengan pembuatan pakan alternatif dari tanaman air bernama Azolla” ujar Made Indra, ketua JFSC Universitas Lambung Mangkurat.

Berasal dari 3 jurusan berbeda (Agroekoteknologi, Agribisnis dan Peternakan) membuat para penerima Beasiswa Prestasi Japfa Foundation di ULM bersatu padu merancang kegiatan sosial yang berkesinambungan satu sama lain. “Pertama kami mengajarkan budidaya tanaman Azolla dengan membuat kolam yang terbuat dari terpal di belakang rumah warga dibantu warga setempat. Penanggungjawabnya adalah kawan-kawan jurusan Agroekoteknologi. Setelah panen, kawan-kawan Agroekoteknologi juga mengajarkan pembuatan pupuk Bokasi. Kawan-kawan jurusan Peternakan bertanggung jawab terhadap pembuatan pakan itik/bebek dari tanaman Azolla tersebut” ujar M. Rizkan, salah satu anggota JFSC ULM.

Tak sampai disitu, para penerima Beasiswa Prestasi Japfa Foundation di ULM juga membina masyarakat agar tingkat ekonomi warga dapat meningkat dengan melatih warga untuk meningkatkan ekonomi dari telur itik yang dihasilkan, yaitu dengan membuat telur itik menjadi telur asin dan dipasarkan dengan kemasan premium. “Telur itik dibuat menjadi telur asin dengan media perendaman. Telur asin tadi dikemas dengan pelabelan dan lain-lain. Kegiatan ini dipimpin oleh kawan-kawan jurusan Agribisnis. Kami melihat masalah di desa tersebut adalah minat terhadap penjualan telur asin itu kurang. Sehingga, kawan-kawan jurusan Agribisnis mencoba bagaimana caranya meningkatkan penjualan tersebut agar lebih meningkat hasilnya” ujar M. Rizkan. 

Kegiatan sosial yang terbagi menjadi 4 rangkaian tersebut belum selesai dilaksanakan karena adanya pandemi COVID-19 yang melanda. Namun demikian, para anggota JFSC ULM menyatakan bahwa respon warga Desa Lok Gabang terhadap kegiatan yang mereka laksanakan sangat baik. “Respon masyarakat sangat baik, bahkan warga ada yang bertanggung jawab mengelola untuk mengecek tanaman Azolla tersebut di belakang rumah warga. Jadi kami sangat terbantu dengan antusias warga disana dan Alhamdulillah sampai saat ini sambutan warga disana sangat baik. Walaupun beberapa kali kegiatan tsb terkendala dari segi waktu. Kami pun berharap bisa meningkatkan daya tarik warga lagi untuk datang saat penyampaian materi” ujar M. Rizkan.

Menebar Manfaat melalui Kegiatan Sosial

Pelaksanaan kegiatan sosial yang dilakukan oleh para penerima Beasiswa Prestasi Japfa Foundation tidak hanya memberikan manfaat kepada warga Desa Lok Gabang, tetapi juga memberikan manfaat tersendiri kepada para penerima Beasiswa Prestasi Japfa Foundation. “Kalau saya, jurusan saya kan berhubungan dengan masyarakat langsung, nah melalui kegiatan sosial ini saya bisa mengerti bagaimana memahami keadaan masyarakat, terjun langsung ke masyarakat. Kemudian untuk tim sendiri, lebih banyak teman, memahami karakter teman yang lain dan juga berkesempatan memahami pelajaran yang sudah dipelajari kawan-kawan dari jurusan lain, misalnya dari jurusan Agroekoteknologi, seperti budidaya tanaman Azolla, pembuatan pupuk Bokasi. Pelajaran tersebut tidak ada di jurusan Peternakan” ujar M. Rizkan.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Made Indra “Kami JFSC ULM selaku narasumber sangat mendapatkan manfaat yang berharga, dimana sebagai akademisi yang bisa dikatakan komplit jika mereka dapat terjun langsung ke masyarakat dan mempraktikkan teori-teori yang selama ini didapat di bangku kuliah”.

Menjalankan kegiatan sosial bersama dengan rekan satu tim tak luput dari pengalaman suka dan duka. “Jujur dalam menyelenggarakan kegiatan sosial ini saya tidak merasakan duka, semua yang saya rasakan banyak sukanya. Keramahan dari warga desa, keseruan di lapangan, bisa keluar dari aktifitas monoton di kampus, merasakan bagaimana berada di masyarakat sebagai akademisi dan belajar memberikan apa yang kita tahu kepada masyarakat dengan baik dan benar agar dapat diterima dengan baik oleh mereka” ujar Made Indra. 

“Sukanya menambah relasi pertemanan, baik dengan teman-teman jurusan lain maupun di pedesaan, karena kan ada remaja juga yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Saya pribadi senang memberikan edukasi kepada anak-anak di desa, karena mengingatkan saya pada masa kecil dulu. Dukanya karena berasal dari jurusan berbeda, kadang ada pendapat yang berbeda. Namun hal tersebut normal dalam sebuah perkumpulan. Namun mungkin hal itu bisa menjadi kendala jika terlalu dibesar-besarkan” tambah M. Rizkan.

besarkan” tambah M. Rizkan.

Peran Beasiswa Prestasi Japfa Foundation dalam Mendukung Kegiatan Sosial

Made Indra dan M. Rizkan menyatakan bahwa Beasiswa Prestasi Japfa Foundation sangat mendukung kegiatan sosial yang mereka jalani, baik dari segi finansial maupun pendampingan. “Peran Beasiswa Prestasi Japfa Foundation dalam mendukung kegiatan sosial itu sangat penting dan sangat berpengaruh. Kami mendapat bimbingan langsung dari pembimbing Beasiswa Prestasi Japfa Foundation sehingga bisa merencanakan dan menyusun kegiatan tersebut dengan matang. Setelah kegiatan tersebut dirasa sudah cukup baik bisa dikirim ke Japfa Foundation dan mendapat dukungan dana untuk kegiatan tersebut, sehingga kegiatan kami bisa berjalan dengan lancar” ujar M. Rizkan.

Hal serupa diungkapkan oleh Made Indra “Beasiswa Prestasi Japfa Foundation tentunya sangat mendukung di semua aspek, terutama pendanaan sehingga segala keperluan yang dibutuhkan dapat terpenuhi serta dalam segi pembimbingan oleh fasilitator selama kegiatan”.

Pesan untuk Teman-teman Mahasiswa

Bagi teman-teman mahasiswa yang ingin menyelenggarakan kegiatan sosial, Made Indra dan M. Rizkan memberikan pesan, nih. 

“Pesan yang bisa saya sampaikan mewakili teman-teman JFSC ULM 2018 ketika menyelenggarakan kegiatan sosial perlu dipersiapkan perencanaan yang matang, manfaatkan waktu disela-sela perkuliahan untuk saling berdiskusi sambil saling mengakrabkan diri, curahkan semua ilmu yang didapat selama kuliah dalam kegiatan sosial ini dengan baik, dan tentu saja jaga tata krama ketika berada di lingkungan masyarakat yang kita bina” ujar Made Indra.

M. Rizkan menambahkan “Alangkah lebih baik lihat terlebih dahulu potensi yang ada di desa tersebut, keadaan desa tersebut serta hal-hal yang bisa diangkat dari desa tersebut, sehingga bisa merancang kegiatan yang bisa menarik antusias warga dalam menjalankan kegiatan yang kalian lakukan. Kemudian saat melakukan kegiatan, kawan-kawan jangan sampai asyik dengan diri sendiri, dengan teman sendiri atau bermain gadget. Alangkah lebih baik kawan-kawan ngobrol dengan warga dibanding main gadget, karena disana akan menentukan pandangan warga terhadap kalian itu seperti apa. Kalau kalian asyik dengan gadget sendiri, warga akan menilai hal-hal yang tidak baik terhadap kalian. Satu hal yang perlu diingat, saat ke desa, kalian tidak hanya membawa nama diri kalian sendiri tetapi juga membawa nama institusi pendidikan”.

Menjalankan sebuah proyek atau kegiatan sosial merupakan sebuah pencapaian tersendiri bagi kami mahasiswa sebab terdapat manfaat yang dirasakan oleh masyarakat selaku para penerima manfaat dan diri sendiri. Oleh karena itu, jangan ragu untuk melakukan berbagai kegiatan sosial di sekitar kita.


“Kalau kalian ingin mencapai sesuatu yang belum pernah kalian capai, maka kalian harus siap melakukan sesuatu yang belum pernah kalian lakukan” – M. Rizkan.


 

Made Indra Wimayadi Candra, JFSC 2018, S1 Jurusan Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat

M. Rizkan Nor Rasadi, JFSC 2018, S1 Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat

.

Baca selengkapnya
photo
Memupuk Kepedulian Sosial Mahasiswa Zaman Now
 17 June 2020 15:19:23    Education

Setiap perguruan tinggi di Indonesia memiliki salah satu tujuan bersama yaitu Tri Dharma Perguruan Tinggi, tujuan bersama ini dicapai dengan melibatkan seluruh elemen civitas akademika termasuk mahasiswa didalamnya. Inti dari Tri Dharma Perguruann Tinggi terdiri dari 3 poin yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, dan penngabdian kepada masyarakat. Dari Ketiga poin dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi kegiatan yang memanfaatkan hasil dari proses pengajaran dan penelitian adalah kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang diharapkan mampu memberikan dampak perubahan untuk masyarakat melalui ilmu  pengetahuan dan teknologi. Irfan Nugraha adalah salah satu penerima beasiswa Japfa Foundation tahun 2018 yang telah mendapatkan apresiasi sebagai 5th Aktivis Sosial di tingkat IPB University karena kontribusinya dalam berbagai kegiatan sosial. Simak cerita bermanfaat berikut ini yah, untuk menambah pengetahuan dan semangatmu melakukan pengabdian kepada masyarakat melalui kegiatan sosial. Selamat Membaca!.

Belajar Bersama Masyarakat

Irfan - sapaan akrab Irfan Nugraha seorang mahasiswa semester 8 jenjang S1 (Sarjana) Program Studi Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan IPB University ini telah berpengalaman melaksanakan kegiatan sosial sejak tingkat pertama perkuliahan. Pengalaman Irfan dalam mengembangkan dan melaksanakan kegiatan sosial di masyarakat ternyata dimulai sejak Irfan duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) melalui kegiatan bakti sosial OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah). Dalam melakukan banyak kegiatan sosial, Irfan terinsiprasi dari sosok Almarhum Ayahnya yang berprofesi sebagai guru yang berpesan "Bantulah Indonesia dalam mencerdaskan kehidupan bangsa". Bagi Irfan kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah kegiatan transfer informasi dan pengetahuan kepada masyarakat yang membuat hati senang, "Ketika kita punya sesuatu yang dibawa ke masyarakat dalam bentuk informasi yang bermanfaat rasa ke diri kita itu lebih nyaman dan memberikan efek kepuasan tersendiri, selain itu ketika kita berkegiatan dengan masyarakat sebenarnya kitalah yang belajar dari masyarakat itu sendiri," tutur Irfan.

Memberi Dampak Kepada Masyarakat  

Dalam setiap kegiatan pengabdian kepada masyarakat, peran Irfan tentu saja berbeda-beda, mulai dari relawan (Pengajar Inspiratif) dalam program Education Weeks In School IPB Mengajar pada tahun 2017, Wakil Ketua IPB Mengajar tahun 2018, Ketua IPB Mengajar tahun 2019, peserta K2N di Brebes dan Tim Divisi Program Japfa Foundation Scholarship Club (JFSC) IPB University. Dalam setiap kegiatan sosial tersebut Irfan memilik kesan tersendiri dalam setiap menjalani proses pelaksanaan hingga pengembangan programnya. Melaui program IPB Mengajar, dimulai menjadi relawan selama 21 hari di Desa Malasari, Bogor tidak hanya mengajar anak-anak melalui program ini Irfan dan teman-teman lainnya melakukan survei ke rumah orang tua (Home Visit), dan berkomunikasi dengan guru sekolah dasar (Rabuan). Lebih lanjut di tahun berikutnya, ketika peran Irfan dalam program IPB Mengajar menjadi wakil ketua, peran yang dijalankan tidak hanya mengajar, lebih dari itu Irfan melakukan supervisi program untuk memastikan program berjalan lancar dan hubungan dengan para stakeholder program juga berjalan baik dan lancar.

Berbeda dari kegiatan sebelumnya dalam program IPB Mengajar, Irfan juga berpengalaman sebagai peserta dalam kegiatan K2N (Kuliah Kerja Nyata) di Kubangsari, Brebes Jawa Tengah. Kegiatan K2N tersebut membawa Irfan dan teman-temannya menncoba mengaplikasikan ilmu perkuliahan yang bisa dimanfaatkan masyarakat sesuai dengan potensi wilayah di tempat K2N tersebut. "Potensi daerah Brebes selainn telur asin ada juga jagung, sehingga Irfan dkk bersama masyarakat mengembangkan nugget jagung ayam dan nugget telur asin, terkait uji coba penilaian makanan tentu kami menggunakan kaidah uji organoleptik dan secara umum masyarakat memberikan respon positif kepada produk tersebut," papar Irfan. Sama halnya seperti kegiatan Irfan dalam K2N, Irfan bersama rekan-rekan JFSC IPB University merancang kegiatan sosial yang dapat dimanfaatkan sebagai media transfer ilmu mahasiswa peternakan kepada masyarakat. Irfan dan rekan-rekan JFSC melihat potensi di daerah Neglasari, Bogor adalah peternakan domba sehingga informasi yang diberikan kepada masyarakat adalah informasi tentang pakan, pengolahan pakan, sanitasi dan manajemen kandang, serta produk olahan domba dan pemasaran.

Kegiatan pengabdian masyarakat tentunya membutuhkan proses persiapan yang tidak sebentar. Oleh karena itu, bagi teman-teman mahasiswa zaman now yang ingin menyelenggarakan kegiatan sosial, Irfan ingin menyampaikan tips dan trik agar kegiatan kamu dapat berdampak kepada masyarakat.

  1. Luruskan niat kita menyelenggarakan kegiatann tersebut. Segala sesuatu dari hati akan sampai ke hati masyarakat juga. Coba tanyakan niat yang paling dalam, dalam menyelenggarakan kegiatan sosial tersebut itu apa?.
  2. Pahami teknisnya secara sistematis (dari persiapan pelaksanaan, monitoring hingga evaluasi) agar kegiatan sosial kita "meaningful". Jangan sampai kita asal-asalan menyelenggarakan kegiatan "yanng penting jalan" atau "yang penting sesuai jadwal".
  3. Pahami kadaan di masyarakat melalui survei potensi dan masalah yang ada di wilayah tersebut.
  4. Setelah mendapatkan potensi dan permasalahan yang ada, poin penting lainnnya adalah diskusikan dengan rekan satu tim agar mendapatkan banyak ide/alternatif solusi.
  5. Cari solusi yang tepat, yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat.
  6. Melakukan pendekatan kepada masyarakat terlebih dahulu jauh hari sebelumnya kegiatan akan dilaksanakan, jangan sampai kegiatan akan berjalan besok kita baru datanng hari ini. 

Beasiswa Prestasi Japfa Foundation dalam Mendukung Kegiatan Sosial

Melakukan kegiatan sosial adalah program wajib para penerima Beasiswa Prestasi Japfa Foundation. Bantuan dana dan pendampingan kegiatan yang diberikan oleh Japfa Foundation adalah bentuk komitmen dalam mendukung pengabdian masyarakat mahasiswa kepada lingkungan sekitar. Selain dengan hal tersebut, Irfan juga mengungkapkan bahwa adannya tunjungan kegiatann sosial bermannfaat bagi penerima beasiswa. "Adanya kegiatan sosial ini melatih kepekaan kepada masyarakat, jadi para JF Scholars bisa di fasilitasi, minat dann bakatnya di bidang sosial, belajar menyalurkan transfer ilmu dari kampus ke masyarakat sesuai arahan dosen, sehingga rasa tanggung jawab kepada kondisi peternakan di Indonesia menjadi tumbuh", ungkap Irfan.

Dari proses perjalanan Irfan dalam melakukan pengabdian masyarakat yang membutuhkan banyak ide dan tenaga, Irfan membagikan pesan kepada teman-teman mahasiswa yang ingin melakukan kegiatan sosial.


"Pengabdian masyarakat sejatinya membuat kita lebih peka terhadap kondisi masyarakat sesungguhnya, membuat kita belajar bekerjasama dengan tim, berpikirann terbuka terhadap orang-orang baru, tidak hanya dengan tim saja dengan masyarakat seringkali kita perlu mennyesuaikan mengolah informasi sesuai dengan masyarakat, oleh karenanya membumikan ilmu dan teknologi untuk kesejahteraan masyarakat itulah esensi dan pengabdian masyarakat". ungkap Irfan. 


 

Irfan Nugraha - JFSC 2018, S1 Program Studi Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan IPB University

.

Baca selengkapnya